Saturday, December 17, 2005

Seperti itu saja…

Matahari terbit bukan di sore hari
Bulan menatap bukan di siang bolong
Dan bila tetap tak cukup jelas kini
Sulit aku berlari, tak juga anggap itu bohong
Dan bila aku mengerti, lantas terkesiap
Sulit aku berlari, sebab tak pernah merasa genap

Gitarku tak lagi berbunyi, subuhku tetap sunyi…
Payudaraku tak lagi penuh, hatiku tetap keruh
Dan bila akalku dangkal, hingga rajin kau sangkal
Bukan cinta yang salah , hanya aku yang lemah

Bukan hanya satu detik aku mengiba
Tidak jarang aku bertutur dengan sengau
Dan bila memang saatnya tiba
Sulit aku berlari, tak juga ingin terus mengigau
Dan bila entah kapan aku kembali, seperti membawa petaka
Jangan hiraukan aku lagi…biarkan saja aku terluka
Bila puisimu bukan tentang aku…

Waktu aku menangis dulu
Bukan karna aku pandai meratap
Jelas kau tahu mengapa
mentah- mentah kau buang aku…
Juga saat aku menangis pagi itu,
Bukan karna aku mabuk atau sekedar meledek…
Jelas aku melihatmu menenteng sewadah air melati yang panas
Untuk kau siram di atas lukaku yang masih menganga
Lalu dengan berang kau lepaskan di pundakku
segumpal sekam panas yang mendesis legit di belakang telingaku…
Sesaat ku lenyap terhimpit awan
Lantas aku meracau dalam tidur…
Sempurna sudah kau mengecupku
Meludahiku dengan liur manismu
Sempurna sudah kau memelukku
Merampas tubuhku erat diluar lingkar tangan yang lain
Sempurna sudah kau memilikiku
Bebas kau tiduri badan ini biar memerah dan berpeluh
Sungguh…ini bukan mimpi bagimu…
Dan saat aku menangis malam ini,
Bukan karna kelaminku yang sobek
Aku terbangun dan menangis karna aku tetap tak bisa memilikimu…

Thursday, December 15, 2005

Ketika suratmu terbaca…

Tidak tahu lagi apa yang ada di dalam hatimu…
…kamu mengucap maaf…
Untuk apa lagi…? Apakah aku sedang kehilanganmu lagi..?
Aku menulis dan menulis untukmu…dan hidup kita…
Tak lagi aku merasakan amarah…hatiku sudah sembuh…
Aku sepenuhnya berdendang…
…kamu mengucap maaf…
Apakah kamu hanya berbicara demi masa lalu..?
Ya…kamu berkata “ maafkan aku” demi masa lalu kan?
Masa lalu yang pernah begitu legam bagi diriku dan bagi dirimu…
Aku yang hilang arah karna kehilanganmu…aku yang mengumpat dan mencaci karna cemburu… aku yang tak ingin mempercayaimu lagi…dan aku yang menanam lembing di sekelilingku untuk mencegahku menatap kekecewaan yang sama…
Dan legam bagimu, hanya karna kamu merasa hatiku terlalu putih untuk bersanding di sampingmu…
Hhh…Sayangku… tidakkah kamu ingat perkataanku saat pertama kali kamu mengakui sesuatu…?…jangan tinggalkan aku seperti itu lagi…tidak pernah sekalipun aku menatapmu kelam…Tidak pernah sekalipun aku mencibir atas kesalahanmu…dan tidak pernah pula aku merasa lebih berharga darimu …aku hanyalah aku…dan aku melihatmu…aku benar-benar menatapmu…aku hanya ingin kamu melihatku seperti aku menatap dirimu…
Bukankah selama ini itu yang membuat kita bersama?…bukankah itu yang membedakan cinta kita dengan cinta yang lain..? bukankah itu yang menjadi nafas tiap langkah kita?
Aku pun mencintaimu dengan sangat sederhana namun tak berujung…

Sunday, December 11, 2005

Hanya aku dan Dirimu...

Malam di kota Seoul semakin membunuhku dengan dinginnya..Seakan2 semuanya menjadi beku dan tak bergerak kaku..Aku masih sendiri mencoba memejamkan mataku yang sedikit berairmata..
Aku tak mampu menahan lagi semua kenangan masa lalu yang datang meracuni semua rasa lelahku dan tetap berharap kembali menjadi bagian diriku saat ini.Saat dimana aku benar2 menjadi diriku seutuhnya, diriku yang sederhana, tampak tak terlalu indah namun bernyawa, diriku yang tak ingin waktu berjalan cepat saat kita mendendangkan nyanyian hati kehidupan. Aku bahagia sungguh bahagia mencintai hanya dirimu dan hidup kita..
Ingatkah kamu?saat kita berbincang tentang masa depan yang akan kita buat?Ingatkah kamu tentang kekasih impian kita? Ingatkah kamu tentang lagu yang kubuat untukmu...?Ingatkah kamu tentang masakan sederhana yang kubuat untuk kita makan bersama?ingatkah kamu saat kita berpelukan sambil menangis di kamar kosku yang tidak besar itu?
Aku masih mengingatnya sayang..mengingat jelas semuanya dengan warna seperti saat itu baru saja kita lewati kemarin bersama.
Sekarang...saat masa depan yang kita buat telah terjadi, saat perpisahan ini kita jalani, saat mata ini terlalu sering berkaca dan akhirnya menangis, saat dosa itu telah kujalani, saat hati ini tak mampu melihat dirimu kembali seperti dulu...
Saat ini ingin rasanya kuulang kembali masa itu dan kurancang kembali sketsa masa depanku, tanpa harus meninggalkanmu walaupun sebentar..seperti yang telah kulakukan sebelumnya, tanpa membiarkan kebohongan menyelimuti cinta kita.., tanpa harus membiarkanmu terluka karena dia, dan aku...
Aku ingin hanya kau dan aku..aku dan kau..mencintai tanpa batas waktu dan perasaan..tapi semuanya terlambat kulakukan..ini adalah hati maafku kepadamu yang kuberikan tanpa syarat, dan tanpa sisa..
Jangan pergi dariku, seperti yang telah kulakukan kepadamu waktu itu, jangan kau lakukan dosa itu, seperti yang telah kulakukan pada hidupku..jangan terlalu sering menangis, seperti yang telah kulakukan pada kedua mataku...
Aku hanya perempuan sederhana, dengan jalan yang berbeda dengan jalan yang kau pilih..
sayang, aku tak sehebat dahulu kala, aku tak sekuat wanita itu, dan aku tak seputih hatimu...tapi aku mencintaimu dengan sangat sederhana dan tak berujung..
maafkan aku...

Created by Santi Dana Metta

Tinggal tiga batang untuk dua alter…

I bid my self to confront the dawn as I still sit here with my cigar down the moon beam and wish to meet my love…The Elder one - of the oldest elves…( Mais…moi-meme.., it’s just me…)…Glimpses of my girls fulfill this air of beautiful mind…they’ve been there…and here…on my path, in my heart, and within my breath…The Elder given me the best and worse of them…like they have taken me in reverse…and I was so in love with them…even still am…( I commenced it…) A tempestuous of a dream headed now… I’ve been into it since I was 8…and it just never change…I have no willing to end this until I just end it…if price is all it needs, then I just give it…somehow…someday…I’ll meet glory… ( smiling…)…Another story tale is cranking up the sore of bones …it comes like a chilly wind that sighs among…I’ve been a monster to someone…( do you think so..?)…Sshh…I refuse to regret, believe soon it’ll be just as good as it gets…( that's better..)…I now remain an apology…to the greatest ones…they have given like a life time to bring endearment, and I just never feel enough…(silence)…and how does it feel to realize when two guys are deeply sympathized but they just got paralyzed…by …(human error ?...haha, forgive me for saying this, … she wouldn’t dare enough to call it that way…) …and in the next morning things just don’t gloom, for rationalizations and facts had adjust the mind and heart then tell what ‘s actually worth to feel…yet, never know what to do…(Dear The Elder, do you reckon this vivid anxiety…)

And all of this just popped out of mine when there’s only three left...Darn! Tai Toi... ne plus parles a moi...

Konsep S3

Rambut panjang nan pekat tertata rapi
Pakaian three-pieces senada, cukup serasi
Sepatu terkini dikenakan
Berkas sudah di tangan
Program teranyar: “ Menjelang Akad’
Ada lagi yang terlupakan?

Kembali menuju meja,
Mata riang menjemput inspirasi
Cerita lewat nada, itu dulu,
Walau masih bernilai…
Kesepuluh jarimu kini bergerak bebas
Melupakan waktu
Menutup berahi
Melepas beban
Menyapa mimpi….

Ya,… Sayangku sang sekretaris pernah melupakannya
Kini tidak lagi…
Apakah senyumku terlihat manis??

Wednesday, December 07, 2005

For Josephine…

A soul that full of fears…
Madness seemed allow the tears…
I see your wings…
Can’t they fly?
Certainly do, but why?
Why do they refuse to win?
A past, you see as a mess,
Lies a less fortress
If for once you can stand
Millions you could afford then…
Not to create a solitude
But to slip a mistrust truth
Just leash your words…
Undo the revenge of worst
You may never see,
We were here,
And we are still here,
At your back to see you free…
Kontemplasi mentah...

Benarkah cinta tak lagi menjadi dasar dari persatuan?melainkan materi, suku, agama dan negara lah yang memegang andil dan mencekik erat kebebasan asa dua individu yang ingin bercinta… apakah boleh aku bertanya-tanya bahwa keadaan ini mungkin menjadi salah satu pemicu kesalahan sebuah insan yang berselingkuh di atas apa yang menjadi miliknya dan pasangannya… Dan bila demikian adanya, mungkin kah kita menunggu ditinggalkan karna kita takut akan rasa bersalah? apakah perpisahan utuh dibutuhkan? atau kita begitu lelah dan tak lagi mencinta??
dan bagaimana dengan perceraian yang akhirnya harus terjadi?
Atau kita harus bebicara soal moral?

Di sisi yang lain, Apa cinta benar- benar ada saat kita masih menerka-nerka sebuah hati yang sesungguhnya membalas dengan lugas perasaan yang kita paparkan? Apa cinta benar-benar ada, saat dua hati manusia terpaut dalam rasa - namun dogma nyata agama hanya membuat mereka diam berpangku tangan?
Dan bagaimana dengan prasangka serta rasa cemburu yang kita miliki? Bukankah cinta seharusnya membuahkan kepercayaan?
Apa benar cinta adalah tentang memberi dan menerima? Sebenarnya cinta itu milik siapa? Atau cinta telah menjadi wujud hubungan itu sendiri?
Dan apabila cinta adalah hanya tentang memberi…
Haruskah cinta diakui hanya karna kita merasa sudah dekat dengan ajal?
Mengapa banyak insan sangat menginginkan cintanya terbalas? Dan mengapa ada hati yang tak lapang memberi waktunya untuk bertahan bersama hanya karna takut tersia-sia?
Lantas, Apa kita benar-benar memiliki cinta saat kita tak berani memberi hati untuk bercinta?
Katanya ada pepatah yang bersuara bahwa cinta dapat memindahkan gunung tinggi sekalipun…(aku tertawa)…Kita bahkan tak mampu berpindah tempat…


Dan bila selingkuh itu indah…

Seikat mawar tergeletak layu
24 batangnya mulai mengering
Warnanya memudar di atas embun ilalang,
Menyatu dengan waktu, menunggu…
Kembali bersemi elok di atas bumi
Dua hari yang lalu seorang gadis periang mengitari taman bunga
Langkah kakinya terarak teduh hati
Dipetiknya bunga liar murni berkembang tak terawat
Terlepas dari genggamannya
Seikat mawar cantik…
------------------------------------
Di balik gaun hitam elegan
Perempuan matang itu menatapnya
Pria pengecut itu kini duduk di pelaminan
Wanita di sampingnya tetap dia…
Dia yang tidak pernah tahu
Kisah yang bukan hanya sesaat
Kisahnya dengan sang pria yang tertutup rapat
Bertahun- tahun sudah sejak nanar hatinya terpatri
Ia menatap dan tersenyum muak
--------------------------------------
Riak paras menyelinap dalam- dalam
Saat dia tertawa, dia menangis
Saat dia menangis, dia tersenyum
Dan bila jarak pandangnya menjauh…
Wanita paruh baya itu duduk tenang…
Tak terlihat titik air yang terbendung di kelopak matanya
Dalam batinnya ia berseru tertahan
Buah hatiku kini di depan mata…
Hanya itu yang Ia rasa indah…

Saturday, December 03, 2005

Menatap, Menetap lalu Pergi

Irama berulang…
Bentuknya sandi bisa terpecahkan
Hanya dengan hati
Selalu seperti itu…
Tanpa atau dengan sengaja…
Masa lalu sama dengan kini
Terburuk,…hanya menjadi yang terburuk
Baik hanya untuk awal
Penilaian yang tepat!
Apakah hatinya tersenyum…?
Atau terluka.. .
Masih adakah semangatnya…atau kandas begitu saja…?
Kerut dahi menebal tanpa alasan
Atau hanya tak diakui…
Terucap maaf…
Tak ada sesal…
Semua hanya tentang pilihan

Belum jam lima…

Adzan subuh sudah terdengar…
Aku masih terjaga…
Bunyi kucing kawin membangunkan ketiga anjingku..
Dan mereka terlelap lagi di atas kasur kakakku…
Kaset yang sama masih berputar sejak jam dua tadi…
Lagu- lagunya tidak mengingatkanku pada sesuatupun…
Hampir sebungkus sudah…
Satu piring lagi dilahap bersih…
Arrghh…Aku hanya ingin tidur…

Terbiasa

Kriiingg …Krriingg…” Hallo…, -sensor-“
Hmm..Boleh aku tersenyum?
Niit..Niiitt…pesan, pesan, pesan!!
“ Sudah makan ay..? sekarang sedang apa?..bla..bla..”
Hmm…Kegirangan…
Esok lagi…lagi..lagi..dan lusa..lagi..lagi..
Lusa jadi esok
Esok jadi kemarin
Kemarin bukan sekarang…
Tik..tok..tik..tok…
Ngantuk …
Kriinggg!!… ahh…bunyi!
“ Deadline pembayaran member besok ya. Transfer aja”
Jangan sangka aku tersenyum…
Tik..tok..tik..tok…
Sepi…
Kangen..??
Tak apalah…
Mungkin aku hanya terbiasa…iya…sudah sangat terbiasa…
Tentang kebebasan hati…yang memilih…
Apabila mimpi terindah menghampiri…
Dan sebuah penantian pun mencapai titik akhir …
Pantaskah untuk dilepaskan demi sebuah cinta terpilih?
Adakah cerdas dan bodoh..?
Apabila pangeran atau dara cinta nyata di depan mata…memberikan semua yang dia ingin berikan…Mungkinkah kita benar- benar menginginkannya?
bila mungkin, adakah kepastian bahwa kita menginginkannya bukan hanya karna kita begitu merasa dicintai…?
Sejenak, … bagaimana dengan pilihan untuk mencintai?…lantas pergi untuk cinta dalam benak...

adakah salah dan benar..??
Saat mata pernikahan telah retak dan pecah……
Dan kita merasa tak mampu bangkit dari keterpurukan perjanjian…
atau kita hanya tak ingin… sebab titik habis perselingkuhan terelakkan lagi… dan insan pengkhianat tetap setia pada dusta…
Sedang aturan tertinggi kekal berharap tak ada perpisahan
Sejenak,…Mungkinkah kita melangkahinya?
Adakah Iman dan Dosa??
Apabila hati kerap bertanya tentang awal mula kepercayaan yang berbeda…
Sebab menatap pertikaian-pertikaian yang ada…seperti mereka lupa pada yang Esa…
Sejenak,…Bagaimana dengan hati yang hanya ingin meniti inti hati, akal dan sikap yang terindah…
Tanpa harus memakai atribut kelompok manapun…
Adakah hitam dan putih…?
Dan apabila seorang manusia duduk tenang—ataupun gusar menimbang sebentuk akibat dan lantas menentukan sebuah pilihan…
Adakah julukan dewasa dan kanak-kanak?

…sesungguhnya,… utuhkah sebuah kebebasan hati yang memilih?

Kalau memang benar baik…

Semua bisa terlontar dari mulutnya
Tapi aku menilai…ingat lah…karna aku bukan orang baik…
Bahkan kalau memang benar,
Jangan pernah merasa itulah dirimu…bersuara apalagi…
Sikap hanya pakaian usang untukku
Sedang kalimat tak dapat kusentuh…
Penjelasan…?? Uhmm…bagaimana dengan pembenaran?
Jangan bertahan di sana sayangku…
Kalau memang benar baik,
Pasti akan terbuka…Mata hati akan dan melihat karna ia ingin…
Jangan dipaksa manis…
Mungkin kamu salah…
Mungkin aku salah besar…
Kalau memang benar baik… kamu pasti bahagia…

Saturday, November 26, 2005

Perkenalkan,

Di sebelahku ini adalah diva tersohor dan penulis ternama, dua-duanya namanya Sinar.
Mereka menjadi cahaya bagi sebuah hidup, hidupku. Benar- benar cahaya.
Ada juga si jenius yang murka atas masa lalu...Namanya Firman. Dan kata-katanya memang menyejukkan hati. Dia pamanku.
Dokter terhebat sekalipun ada. Tugasnya menyembuhkan dan menata luka batin. Dia dokter pribadiku. Panggil dia Dr. Bidadari.
Yang dua ini pemimpi sederhana, namanya Kilau dan Jie Jie . Mereka tidak pernah berhenti mencari dirinya, dan selalu menjadi kesayanganku.
Gadis montok dengan senyum khas itu namanya Monalisa, yang di sebelahnya biasa dipanggil Miss. J. Mereka ballerina kawakan.
Salah satu dari yang barusan pergi itu calon ustadz. Emm..ck ..Ahh aku lupa namanya. Yang jelas hobinya mengaji. Aku dan Sinar si penulis sempat mengecap sentuhan rohaninya. Dan umm..Maaf, dua yang lainnya aku lupa sama sekali…
Lantas di pinggir situ adalah sekelompok calon pembuat film terbesar. Yang duduk adalah Mr. Sanjay dan yang satunya lagi Toro, biasa disebut Terang. Mereka teman baik. dan aku selalu ingin menjadi teman baik mereka..Oh ya, yang lagi berdiri sendiri itu namanya Agustus, dan dia kini memang sudah merdeka. Dia dulu kekasih Dr. Bidadari.
Kalau eksekutif muda yang necis itu namanya Sungai, tapi dia senang dengan sebutan asdos. Iya, cara bicaranya memang seperti asisten dosen. Dan aku benar-benar belajar banyak hal darinya.
Nah yang duduk di seberangku itu pemain bass terbaik. Pagi namanya. Seperti pagi sesungguhnya, tanpa disadari kehadirannya selalu diharapkan, serta mengingatkanku bahwa aku masih bernafas…dan aku patut bersyukur untuk itu.
Aku sendiri adalah pemburu kesehatan batin dan ilmu, penikmat alam, literatur, nada dan juga tari …hobiku menonton film dan bermimpi…mimpi bertemu Tuhan.
Panggil aku Santa… Aku di sini karna mereka…

Tuan Variabel

Kursi panjang jati gereja, di barisan terbelakang
Itu dia, baru saja tiba
Dia duduk di ujung
Sudah berkali- kali
Dalam minggu- minggu pencarian
Pencarian sejati tentang yang Ilahi
Seperti dia hanya pantas ditatap
Tangannya kerap menjabat tanganku
Salam damai…
Sedetik yang lalu ada bunga
Cincin itu…
Ibu melihatnya…
Ibu tetap berangan, seakan berkata
“ Jangan sudahi trinitas. Itu, dia di sini sendiri…”
Bunga tak bersemi
Tangannya kerap menjabat tanganku
Sekali lagi.. hanya karna salam damai…
Tak ada apa- apa
Hanya senyum dan damai…

At a Time

There’ll be a day…
I sit and recall
How my self hardly let a heart in
As lots of lost miracle thoughts unleashed a brilliant fights
I apologize to a determined heart…

It’ll be a day…
I’m fond
I let my self awake from deepest hypocrites
For I ever swore I wouldn’t have a heart to love you hard
Yet I never hail bravery to devote such a gentle heart
I apologize to wonderful ones…

One day—I know—Will come,
I’ll let my heart run,
Let my breath, my arms, my neck, my vein, my everything
Feels what real love is like
No longer stand numb





Sunday, November 20, 2005

Santi…Santi…

Pernah ku merasa sangat bangga, pernah ku merasa sangat kecewa, pernah ku merasa sangat memiliki, pernah ku merasa begitu utuh…

Kalau semua harus beranjak, entah dengan merangkak, berjalan, berlari bahkan terbang, atau ada kalanya berbalik arah ,
Cinta yang ini pasti tetap tentram tinggal di benakku…

Seperti butir- butir cahaya sesungguhnya,
Tajam binar matamu mendatangiku,
Menyilaukan dan membuka paksa mata
Mencairkan kebekuan batin
Dan mengeringkan air mata yang pernah mengisi kamar hatiku…

Rinduku seakan tidak pernah luruh untukmu
Setiap lipatan memoriku utuh dipenuhi cerita, mimpi, cinta, sakit, detik, airmata, geram, maaf dan peluh bersama…

My Precious Ruby


Surely the one , and firmly made
Appear to appease my hesitates
My sense to beauty of you will never end
For your blue soul conquers the best scent

A process lies to be approached
A diamond was not a diamond
As a beautiful author has lodged
You’ve been into something so uncommon

If most eyes see better over worse
Then my heart’s here just to be with you
If this metaphor should end and you are lost
Then I’ll be poorer without you

Dear_anna , (sstt...yang mengerti hanya kita)

Masih ingat nama itu?…itu namamu…dalam dunia kita yang terdahulu…kita belum sempurna saat itu…dan sampai kini pun…tapi kan tak ada salahnya kita mencintai diri sendiri…

Siang itu aku menghampirimu yang duduk di bangku panjang kantin daftar hitam sebuah kampus. Kamu bersama pasanganmu, aku bersama mantanku…
Dan selanjutnya…bangku panjang kantin serta ruang layar elektrik cinta semu akhirnya menjadi tempat kesukaan kita saat itu…
Kita tidak diam-diam bercinta, kita tidak diam- diam melagu, kita hanya benar- benar merasa nyaman bersama…dan mereka tahu itu…
Tahukah kamu bahwa sejak aku mengenalmu aku tak pernah berhenti bermimpi untuk terus bersama…
sadarkah kamu bahwa dalam kekayaan kita ceria berbagi…dan disaat receh yang tersisa hilang dilibas masa dan asa, kita tidak malu memetik gitar dan melagu bersama di warung kaki lima di pinggir jalan yang pikuk…
Amarahku pernah lepas, air matamu pernah menetes…di atas bukit bumi, di balik daun pintu, di tengah mungilnya empat sisi dinding, dan di alam jiwa yang bergetar, kita menanggalkan topeng diri yang rapuh, murka, sakit, khilaf dan angkuh…Aku begitu yakin kita berada dan bertutur di situ karena bentuk cinta…ya..kadang kita berlutut merasakan cinta yang datang seperti malaikat atau seperti paras makhluk terburuk…bagaimana pun, itu tetap cinta yang menyapa… dan bicara soal cinta, cintaku pernah menjadi cintamu…cintamu pernah menjadi cintaku. Ahh kamu memang cintaku… Oh dan tahukah kamu bahwa aku dan mereka berdecak kagum untukmu? bahkan cintaku yang lain sangat mencintaimu…aku sungguh bahagia bersamamu…tak pernah aku merasa ada waktu yang sia- sia saat bersama. My dear…, kita pernah ada..dan akan selalu ada…aku adalah buah dari hati besar mu…

Kepada yang Tercinta

Kepada yang tercinta,

Aku pernah berkata pada mereka dan diriku sendiri, bahwa aku tak akan berpaling…

Cinta, 7 tahun yang lalu aku duduk di sini. Menyuarakan kegalauanku. Di depanku sahabatku duduk membahas sesuatu yang tepat untukku. Kita berdua memang menjadi raja untuk dunia kita masing- masing saat itu. 4 jam sudah waktu yang telah kita habiskan untuk berbincang di situ dari jam 3 sore. Nyanyian cinta dari sebelah rumahku terdengar sangat jelas. Aku bertanya pada sahabatku “ apa benar itu bukan untukku?”. Sahabatkuku dengan sangat singkat menjawab “bukan, jangan GR”. Kami kembali menghisap rokok putih kesayanganku dulu.

3 tahun setelah itu aku duduk masih di tempat yang sama. Kali itu yang duduk di depanku adalah dia yang telah menjadi teman sekaligus cinta, teror dan keluargaku. Berdua terjaga dalam keterlelapan pagi. Ia duduk dengan setia mendengar celotehku dan kemudian memberiku referensi buku kecintaannya yang sangat logis dan begitu menarik. Ia tidak bermaksud apa-apa, ia hanya menyuruhku untuk menjaga hati. Nyanyian cinta datang mengalun dari sebelah rumahku. Aku beranjak tidur kala ia bermaksud untuk hal lain.

Sekarang, 4 tahun setelah aku berusaha memperbaiki kalbu dan akalku, ironisnya, aku seperti tidak ingin duduk. Tapi aku tahu aku teralu lelah bercinta dengan kefanaan untuk bertumpu pada kakiku. Hfff…. Terbersit persoalanku dengan cintaku terhadap adam yang lain. Aku bicara tanpa henti, tanpa rasa, kecuali ego. Di depanku sekarang adalah sahabatku yang lain. Ia dengan sangat sabar menyimak dan berbesar hati berdialog denganku. Dia sering mempertanyakan kesetiaanku dan menggodaku untuk berselingkuh…tapi aku tahu benar dia hanya bergurau, dia pun pasti tak bulat rela…Nyanyian cinta kembali terdengar…sahabatku melontarkan gurauannya lagi kala dia melihatku sedikit menikmati nyanyian cinta itu lantas memberiku waktu untuk tertegun, sembari ia beranjak mencari tempat yang terhindar dari tatapan matahari, yang saat itu mulai memerah…

Cintaku, Maafkan aku…aku benar-benar resah…jari lentikku masih menari di atas keyboard tua milik ayahku…
Hhhh.. Cinta, apa benar aku harus berpaling? Kalau memang ini bukan seharusnya yang aku rasakan mengapa aku merasakannya? Kalau memang akal dan hatiku penuh tanya, mengapa tidak pernah terjawab ? Kalau memang ini butuh waktu, kenapa harus sejauh langkah cahaya? Dan kalau memang akhirnya aku harus pergi…akankah aku menjadi utuh…??

Cintaku, Aku masih duduk di bawah kaki Mu , dan di atas hati dan akalku yang kecil, aku ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa aku sangat mencintai Mu…Aku tidak ingin meninggalkan Mu…

Dia Bilang

Dia bilang aku egois
Dia bilang aku kepala batu
Dia bilang aku hanya memikirkan diriku sendiri
Dia bilang aku takut kehilangannya
Dia bilang aku hanya bermain dengan hatinya
Dia bilang dia enggan berjuang …??
Dia bilang aku susah terima kenyataan
Dia bilang “ Jangan berteman dengan alkohol, batang rokok, dan malam ”
Dia bilang aku bicara kasar
Dia bilang dia sayang…atau kasihan??
Dia bilang “ Jangan mendekat lagi ”
Dia bilang aku harus bersama yang lain
Dia bilang “ Jangan menangis! ”
Dia bilang aku tidak bisa memaksanya, dia tidak bisa memaksaku
Dia bilang “ Lakum dinukum wa liya dini”